"Pengampunan yang Menyembuhkan"

07 December 2020

Saudara-saudari yang dicintai Tuhan. Warta Injil hari ini tentang kuasa Tuhan Yesus yang menyembuhkan. Ia menyembuhkan dengan kata pengampunan (Luk 5 : 17-26). Santo Ambrosius, Uskup Milano menghadirkan kasih pengampunan dalam kegembalaan umatnya.    Tuhan Yesus menyembuhkan seorang lumpuh. "Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkan di hadapan Yesus" (ay 18). Kesembuhan bisa ditemukan dalam "kebersamaan". Kuatnya perhatian mereka terhadap teman dan iman akan Tuhan Yesus tampak dalam tindakan mereka. Tindakan iman dalam kebersamaan bisa menghadirkan kesembuhan bagi orang lain.  Pengampunan itu menyembuhkan. "Ketika Yesus melihat iman mereka, berkata lah Ia : "Hai saudara, dosamu sudah diampuni" (ay 20). Pengampunan memiliki daya luar biasa, mampu menyembuhkan "jiwa dan raga". Tugas utama para murid adalah menghadirkan pengampunan agar suasana kasih tercipta kembali dan semua orang mengalami berkat Tuhan.  Hari ini Gereja memperingati Santo Ambrosius, Uskup Milano. Ambrosius lahir di Trier, Jerman pada tahun 334. Ambrosius adalah gubernur Liguria dan Aemilia yang berkedudukan di Milano, Italia Utara. Waktu itu, Uskup Milano, Mgr. Auxentius meninggal dunia. Gubernur Ambrosius sedang membacakan tata tertib pemilihan Uskup, tiba-tiba seorang anak kecil berteriak : "Uskup Ambrosius, Uskup Ambrosius!". Semua orang sepakat, tetapi Abrosius menolak karena dia belum dibaptis. Atas desakan semua umat, akhirnya Ambrosius menerima. Terjadilah selama 6 hari mulai dari pembaptisan sampai tahbiskan Uskup. Ambrosius menjadi Uskup Milano. Santo Ambrosius mentobatkan kaisar Theodosius dan Santo Agustinus. Santo Ambrosius meninggal pada tahun 397 dan digelari Pujangga Gereja.     Saudara-saudari yang terkasih. Kita juga memiliki tugas mulia yaitu menghadirkan pengampunan. Agar bisa menjadi pribadi pengampun, kita harus "berdamai" dulu dengan diri sendiri yaitu menerima dan mengampuni diri kita. Mohonlah karunia kasih agar kita dimampukan mengampuni orang lain. Dengan mengampuni sebenarnya kita "menyembuhkan luka batin" kita sendiri dan menyembuhkan orang lain. Selamat melayani dengan mengampuni.

View More

Menjadi Pelita Bagi Sesama

30 January 2020

Bacaan Markus 4:21-25Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Lalu Ia berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." <®><©><®>Sahabat pelita hati,Ada dua pokok permenungan yang dapat kita renungkan dari pelita sabda hari ini, pertama, Tuhan menegaskan bahwa pelita harus tetap bersinar dan yang terpenting harus berada di tempat yang benar, yakni di atas kaki dian bukan di bawah tempat tidur. Kedua, kita akan semakin diberi kepercayaan yang lebih besar jika kita memiliki tanggungjawab yang benar terhadap tugas yang kita emban.Sahabat terkasih,Ibarat pelita, dengan menerima sakramen baptis kita hati dan hidup kita telah dinyalakan oleh api baptis itu. Tuhan telah menyalakan hati kita dengan terang dan cinta kasih-Nya. Karenanya kasih itu harus ada di tempat terdepan dan harus diarahkan kepada sesama. Jika kita pelit atau bahkan menyembunyikan kasih dan kebaikan kepada sesama ibarat pelita yang dletakkan di bawah gantang atau di kolong tempat tidur sehingga tidak bermanfaat sebagaimana mestinya. Inilah tipe orang yang hidup untuk dirinya sendiri. Hidup yang tidak bermakna dan berdaya guna bagi sesama. Sahabat terkasih,Ketika kita banyak berbuat kasih dan kebaikan kepada sesama sesungguhnya tidak ada yang terkurangkan dari kita. Sama sekali tidak. Justru semakin kita memberi perhatian kepada sesama dengan kebaikan dan kasih, hidup kita akan semakin berlimpah kasih dan kebaikan juga. Dengan kata lain, jika talenta yang kita terima dari Tuhan itu kita persembahkan bagi sesama, maka kepada kita akan ditambahkan lebih banyak lagi. Tuhan akan mencurahkan lebih banyak lagi berkat. Karenanya, jangan pernah menyalahgunakan berkat dan kebaikan dari Tuhan. Apakah hidup kita sungguh telah bermakna bagi sesama? Apakah anugerah Tuhan yang kita terima juga kita salurkan demi kebaikan sesama? Jika sudah, mari kita lanjutkan dan kita tingkatkan. Jika belum maksimal, mari kita usahakan lagi agar kebaikan kita dapat dirasakan oleh makin banyak orang. Tetaplah menjadi pelita yang bernyala dan bercahaya bagi sesama.

View More

Mencari jalan keluar

21 November 2019

Ketika masalah muncul, yang diperlukan adalah solusi, pemecahan, jalan keluar. Tetapi, fakta berbicara lain. Ada orang yang tahu masalah yang terjadi, mampu melakukan tindakan yang diperlukan, namun dia bukan mencari solusi melainkan memilih diam (karena merasa tidak berkepentingan, enggan memikul risiko, dll.), atau sibuk mempersalahkan orang lain, bahkan ada yang berusaha agar masalah tetap berlangsung agar bisa memancing di air keruh.Tetapi, lihat sikap Yusuf. Mesir dihadang masalah besar: paceklik hebat selama tujuh tahun. Yusuf sadar dia budak, narapidana pula. Apa pun yang terjadi, yang ditimpakan padanya selalu yang buruk. Namun, dia lupakan dirinya. Dia hanya memikirkan apa yang baik bagi semua. Maka, begitu melihat masalah, dia mengajukan solusi. Dia mengusulkan agar Mesir menyisihkan sebagian panenan tahun-tahun kelimpahan, menimbunnya di gudang-gudang yang dibangun di seluruh Mesir, untuk menjamin kecukupan pangan di tahun-tahun paceklik (ay. 34-36). Untuk memastikan keberhasilan program itu, dia memohon Firaun menetapkan penanggung jawab di pusat maupun di daerah (ay. 33, 34). Lihatlah! Ketika masalah muncul, hanya satu yang dipikirkan Yusuf: memecahkan masalah demi kebaikan semua.Dalam hidup, masalah datang silih berganti. Sikap-sikap egoistis tidak mengantar siapa pun kepada kebaikan. Sikap Yusuf mendorong kita untuk selalu bersikap solutif: dalam tiap masalah yang terjadi, selalu mengutamakan upaya untuk menemukan solusi, agar semua menjadi lebih baik. Itulah cinta. --EE/www.renunganharian.net* * *PADA AKHIRNYA, DALAM MASALAH APA PUN YANG MENGHAMPIRI,HAL YANG PALING PENTING DAN PALING DIPERLUKAN ADALAH SOLUSI.* * *?

View More